Tari Saman – Tari Tradisional Aceh

Di antara beraneka ragam tarian dari pelosok Indonesia, tari saman termasuk dalam kategori seni tari yang sangat menarik. Keunikan tari saman ini terletak pada kekompakan gerakannya yang sangat menakjubkan. Para penari saman dapat bergerak serentak mengikuti irama musik yang harmonis. Gerakan-gerakan teratur itu seolah digerakkan satu tubuh, terus menari dengan kompak, mengikuti dendang lagu yang dinamis. Sungguh menarik, bukan? Tak salah jika tari saman banyak memikat hati para penikmat seni tari. Bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara. Sekarang, mari kita ulas lebih dalam lagi mengenai tarian unik ini.

Sejarah

Mengapa tarian ini dinamakan tari Saman? Tarian ini di namakan Saman karena diciptakan oleh seorang Ulama Aceh bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Awalnya, tarian ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, tari saman menjadi salah satu media dakwah.

Continue reading

Advertisements

AMDAL Pembangunan Best Western Hotel di Banda Aceh Sudah Terbit

Banda Aceh – Pemerintah Aceh akhirnya menerbitkan analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang diajukan PT Jakarta Intiland untuk pembangunan Best Western Hotel dan Mall di Banda Aceh.

“AMDAL sudah terbit, tinggal hanya perbaikan redaksi pada dokumennya, dan saat ini sedang disusun kembali oleh konsultan,” kata Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedal) Provinsi Aceh Husaini Syamaun di Banda Aceh, Sabtu.

Hotel berbintang berlantai 14 dengan ketinggian 42 meter akan dibangun di Banda Aceh yang lokasinya dibekas Geunta Plaza atau tepatnya 300 meter sebelah tenggara Masjid Raya Baiturahman.

Dijelaskannya, hasil rapat tim komisi sudah memutuskan untuk mengeluarkan dokumen AMDAL pembangunan hotel dan mall tersebut, dikarenakan hal tersebut sudah sesuai.

Continue reading

DPRK Setujui Pembangunan Hotel dan Mall

Banda Aceh – Pimpinan DPRK Banda Aceh sudah menyetujui dan merekomendasikan rencana pembangunan Best Western Hotel dan Mall, karena dinilai positif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di ibukota Provinsi Aceh itu.

“Kami para pimpinan sudah menyetujui dan merekomendasikan pembangunan hotel dan mall tersebut, dikarenakan pembangunan itu sangat positif untuk mendukung konsep Banda Aceh sebagai bandar wisata Islami,” kata Ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia di Banda Aceh, Kamis (22/12).

Hotel dan mall setinggi 42 meter dengan 12 lantai itu direncanakan dibangun di bekas Geunta Plaza atau tepatnya di sebelah tenggara Masjid Raya Baiturrahman dengan menelan investasi Rp200 miliar.

Dijelaskannya, saat ini banyak wisatawan dalam negeri yang berkunjung ke Banda Aceh ingin bisa menunaikan shalat Tahajud di Masjid Raya, namun tidak ada hotel yang representatif di areal masjid.

“Saya pikir, Banda Aceh ini butuh hotel yang representative di kawasan dekat Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh itu,” jelasnya.

Continue reading

Image

Polda Aceh: 65 Anak Punk Senang Digunduli dan Dibina

Foto : AFP

Jakarta – Langkah Polda Aceh menggunduli 60 Anak punk menuai kontroversi. Tindakan itu pun diekspos media Australia hingga Eropa. Nah, Polda Aceh pun memberi penjelasan. Langkah penggundulan itu bukan pelanggaran HAM, melainkan untuk membina agar anak-anak itu menjadi lebih baik.

“Jadi kan begini, mereka itu dibina di sekolah polisi. Sesuai tradisi, mereka harus dimandikan dan digunduli. Dan mereka senang-senang saja,” kata Kabid Humas Polda Aceh AKBP Gustav Leo saat dihubungi detikcom, Jumat (16/12/2011).

Gustav bercerita hal ikhwal anak-anak punk ini ‘disekolahkan’ di sekolah polisi. Pada Sabtu (10/12) lalu, ada 65 anak punk yang kedapatan mengumpulkan uang di jalan. Mereka meminta uang kepada pengendara di Banda Aceh.

Aceh International Folklore Festival 2011

Aceh kembali membuat sebuah sejarah kebudayaan. Untuk yang pertama kalinya di Indonesia event Kesenian rakyat Internasional (International Folklore Festival ) di gelar di Kota Banda Aceh. Acara yang dilaksanakan dari tanggal 23 – 28 Juli 2011 ini diikuti oleh 10 (sepuluh) negara. Mereka akan menampilkan kesenian rakyat dari negara masing-masing.

Acara yang resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Aceh, H. Muhammad Nazar, S.Ag pada Sabtu malam tanggal 23 Juli 2011 di Taman Ratu Safiatuddin Lampriet Banda Aceh ikut menampilkan pertunjukkan kesenian rakyat dari 10 (sepuluh) Negara, Diawali penampilan kesenian rakyat Turki, Polandia, Pakistan, Italia, Indonesia, Kanada, Malaysia, Lithuania dan Estonia. Rencananya Afrika Selatan dan Srilanka akan ikut serta juga di acara ini, namun saat defile peserta di Panggung Utama Taman Ratu Safiatuddin pada acara pembukaan, kehadiran peserta dari kedua negara tersebut masih belum terlihat.

Continue reading

Siang Mengemis, 14 Malam Tidur di Hotel

Ilustrasi Pengemis Oleh Roderick Adrian Mozes

BIREUEN, KOMPAS.com – Sejumlah warga Kota Juang Bireuen, Aceh, mengaku terheran-heran dengan perilaku pria berinisial Abd (50), warga Desa Blang Paseh, Sigli, Pidie.

Pasalnya, pria tersebut mencari nafkah dengan mengemis di Bireuen. Tapi, pada malam hari ia bersama istrinya, Njh (41), justru menginap di hotel.

Pengemis bertubuh tambun dan berjenggot pirang, dengan rambut yang sudah ubanan itu, kini dilaporkan mulai meresahkan masyarakat Bireuen.

Hasil penelusuran Serambi Indonesia, hingga Sabtu (19/2/2011) lalu, si pengemis sudah dua pekan menginap di hotel tersebut. “Kami heran ada pengemis tidur di hotel. Kalau siang mengemis di desa kami, padahal ia tampak sehat dan segar bugar,” ujar Yahya, seorang warga.

Continue reading

Kontes Miss Waria di Aceh

Banda Aceh: Puluhan waria di Provinsi Aceh ikut serta dalam pemilihan Duta Sosial dan Budaya Aceh 2010 yang juga sebagai ajang silaturrahmi waria di Aceh. “Kegiatan ini sebagai ajang silaturrahmi kaum waria dan memilih Duta Sosial dan Budaya Aceh,” kata ketua panitia, Jimmy di Banda Aceh, Ahad (14/2).

Continue reading

Aceh Sarankan Timnas Indonesia Pakai Pita Hitam

DETIKPOS.net – Masyarakat Aceh mengharapkan Tim Nasional Indonesia mengenakan pita hitam di lengan saat berlaga melawan Malaysia, Minggu 26 Desember 2010 mendatang.

Sekjen Partai Rakyat Aceh (PRA), Thamren Ananda mengatakan, selain untuk mengenang para ratusan ribu korban tsunami yang meninggal di tanggal yang sama enam tahun lalu, ada alasan lain.

“Ini akan membuat masyarakyat Aceh ikut memiliki Timnas, menjadi bagian dari Timnas, apalagi pernah ada konflik di Aceh. Ini akan semakin mengikat kita sebagai bangsa,” kata Thamren saat dihubungi VIVAnews, Jumat 24 Desember 2010 malam.

Continue reading

3000 Penari Saman Kodam IM Pecahkan Rekor Muri

BANDA ACEH – Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Kodam IM) memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai penyelenggara tari saman dengan menampilkan penari terbanyak, yakni 3.000 orang lebih. Tarian tersebut ditampilkan untuk memeriahkan HUT ke-54 Kodam IM di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Rabu (22/12).

Meski becek karena pada malamya sempat diguyur hujan, para penari dari prajurit TNI Kodam IM, istri TNI, dan masyarakat umum itu tampil memukau menampilkan tarian asal Gayo, Aceh Tengah. Dibalut pakaian adat Aceh, gerakan kepala dan tepuk dada para penari berlangsung serentak.

Usai penampilan itu, Deputy Manager MURI, Damian Awan Raharjo menyerahkan piagam perhargaan pemecahan rekor MURI-Dunia Indonesia kepada Pangdam IM, Mayjen TNI Adi Mulyono.

Continue reading

Human Right Watch Meminta Presiden SBY Mencabut Qanun di Aceh

Human Rights Watch melakukan tekanan terhadap pemerintah Indonesia, di mana organisasi internasional itu menekan pemerintah, khususnya kepada Presiden SBY untuk membatalkan undang-undang ‘Qanun’ yang telah berlaku di Aceh.

Lahirnya ‘Qanun’ yang sekarang diterapkan di Aceh, memiliki landasan yang kuat, yaitu Undang-Undang No.18/Tahun 2001, tentang Otonomi Khusus Aceh, dan telah disyahkan DPR-RI, yang mengatur kehidupan di Aceh.

Menurut Human Rights Watch Peraturan Daerah (Perda) Syariat Islam di Aceh melanggar hak asasi manusia. Qanun di Aceh mendiskriminasi perempuan dan membuka peluang terjadinya kekerasan massal dengan dalih menegakkan syariat Islam.

Continue reading