Ayam Yang Sudah Mati Bisa Bertelur


Seorang pedagang yang sedang berpergian jauh, suatu hari singgah di sebuah penginapan. Oleh pemilik penginapan, ia disuguhkan ayam betina, dua buah telur dan separuh roti saat makan malam.

 

Paginya, si pedagang hendak meninggalkan penginapan, tapi ia belum sempat membayar makanan tersebut lantaran terburu-buru. “Dihitung nanti saja, kalau saya ke sini lagi.”

 

Selang tiga bulan kemudian pedagang tersebut datang kembali dan menginap di hotel yang sama. Dan pemilik hotel pun menyuguhkan ayam betina, dua telur dan separuh roti, sama seperti jamuannya terdahulu.

 

Ketika si pedagang kembali hendak meninggalkan penginapan, si pemilik penginapan buru-buru mengingatkan. “Kita hitung dulu utang-utangmu, jumlahnya dua ratus tail ! Dan kamu tidak bisa pergi sebelum membayarnya !.”

 

Mendengar pernyataan si pemilik penginapan, si pedagang terkejut keheranan.

 

“Saya mau bayar, tapi apa kamu tidak pakai otak ! Uang dua ratus tail itu sangat besar ! Mungkinkah dua ekor ayam dan empat butir telur itu harganya dua ratus tail ?”

 

“Bukankah sudah saya katakan kalau perincian utang kamu itu dihitung sudah sejak lama ? Kamu datang ke sini kan tiga bulan yang lalu. Andaikata ayam betina yang kamu santap itu bertelur, katakanlah sebutir setiap hari, pasti jumlah telurnya sekian. Apalagi kalau ditetaskan, tentu akan menghasilkan anak ayam yang cukup banyak. Dan jika digabungkan antara yang kamu makan saat ini dengan tiga bulan yang lalu, tentu saya mempunyai ayam yang sangat banyak. Maka jika saya hanya menuntut dua ratus tail, itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan kalkulasi yang sebenarnya !” Jawab si pemilik penginapan dengan berang.

 

Mereka berdebat sengit, sampai akhirnya perkara itu dilimpahkan ke pengadilan. Curangnya, si pemilik penginapan berusaha menyogok hakim.

 

“Bukankankah kau telah setuju dengan harga dua potong ayam dan telur yang dikatakan pemilik penginapan ?” Tanya si hakim saat menginterogasi si pedagang.

 

“Tidak ! Saya hanya mengatakan, kita perhitungkan nanti saat saya kembali.”

 

“Apa kau menetapkan harga ?” tanya si hakim lagi.

 

“Tidak !”

 

“Dari dua ayam betina dan enam butir telur, apa tidak mungkin dihasilkan ribuan telur ?” si hakim semakin mencercanya dengan pertanyaan yang menyudutkan.

 

“Memang itu tidak mustahil.”

 

Demikianlah, si pedagang itu banyak menyanggah, namun hakim tak menerimanya. Bahkan nyaris saja akan diputuskan bahwa si pedagang harus membayar dua ratus tail.

 

melihat kenyataan ini hati si pedagang sedih dan gundah. ia pun meminta tempo agar hakim menunda putusannya. Untungnya si hakim setuju.

 

Sebagian orang yang iba pada pedagang itu menyarankan agar ia minta bantuan Nashruddin saja untuk mengatasi masalahnya.

 

Pedagang itu lantas mendatangi Nashruddin dan menceritakan semua yang terjadi. Ia meminta ulama yang cerdik nan kocak itu untuk menjadi pengacaranya.

 

Sayangnya, tepat di hari yang telah ditentukan, Nashruddin belum menampakkan batang hidungnya, Sampai-sampai pihak pengadilan mengutus beberapa orang untuk memanggilnya.

 

Begitu Nashruddin tiba, dengan bersungut-sungut hakim bertanya padanya, “Kenapa kau biarkan kami menunggu lama ? Kenapa kau tidak datang tepat waktu agar kami semua tidak menunggu ?”

 

Tanpa mempedulikan kemarahan hakim, Nashruddin menjawab, “Yang mulia, sabar dan jangan marah dulu ! Saat akan berangkat ke sini, teman saya datang. Saya perintahkan dia untuk menanam biji gandum di sawah. Lalu saya memberinya sekarung biji gandum, sekalipun hasilnya nanti bukan untuk saya semuanya. Tapi, biji gandum yang akan ditanamnya itu sudah saya rebus. Itulah sebabnya saya datang terlambat.”

 

Nampaknya pancingan Nashruddin berhasil, sampai-sampai si hakim bertanya kebingungan dan setengah marah. “Kalian pernah mendengar rebusan biji gandum dapat tumbuh ?” tanya hakim pada seluruh orang yang hadir di persidangan. “Kamu ini aneh tuan Nashruddin ! Mana mungkin itu bisa terjadi ?! lanjutnya lagi.

 

Dicecar pertanyaan seperti itu Nashruddin malah tersenyum, “Kalau begitu, ayam yang sudah direbus pun apa mungkin bisa bertelur ? Apalagi kalau telurnya berubah menjadi anak ayam dan berkembang menjadi ayam besar ? Benarkah pedagang ini harus membayar dua ratus tail untuk dua ekor ayam dan empat butir telur ?” Jawabnya diplomatis.

 

Dan, argumentasi sang hakim pun seketika terbantahkan. Akhirnya, si pedagang pun terbebas dari tuntutan dua ratus tail !!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s