Hewan Buruan Yang Bernama Ilmu


“Ilmu itu seperti hewan-hewan buruan, dan tulisanmu adalah tali kekangnya.
Maka, ikatlah hewan-hewan buruanmu dengan tulisan-tulisanmu.” (Imam Ali bin Abi Thalib).

Perkataan Imam Ali bin Abi Thalib diatas patut untuk kita jadikan filosofi dalam menulis, bahwa ilmu janganlah dibiarkan begitu saja. Akan tetapi ikatlah ilmu-ilmu itu dengan tulisan-tulisanmu. Ali bin Abi Thalib mengibaratkan ilmu seperti hewan buruan. Mengapa, karena kita membutuhkan ilmu, kita mencari ilmu, kita memburu ilmu. Kita adalah pemburu, dan hewan yang kita buru bernama ilmu. Sama halnya dengan seorang pemburu yang yang mancari hewan buruan, hewan (baca: ilmu) tersebut haruslah di kekang oleh sebuah tali yang bernama tulisan. Jika tidak ia akan lepas dan melarikan diri entah kemana.

Untuk menjadi seorang penulis yang hebat seperti Khalil Gibran tidak dibutuhkan banyak bakat, yang dibutuhkan hanyalah keinginan dan tekad yang kuat. Seperti yang dikatakan oleh Mochtar Lubis.

“Hanya diperlukan 10% bakat dan 90% tekad untuk menjadi penulis yang sukses.”

Perjalanan 1000 mil dimulai dengan satu langkah, ambil langkah itu sekarang ! Begitu juga menulis. Penulis-penulis besar memulai karir menulisnya dari hal-hal kecil, seperti menulis catatan-catatan harian. Jadi mulai sekarang mulailah menulis, tulislah tentang apa saja, tidak harus bertema besar. Tulislah tentang hal-hal kecil yang sepele tetapi penting untuk dikaji ulang. Tulislah tentang apa yang kamu dengar dan rasakan.

Akan lebih mudah untuk menulis jika topik yang diangkat benar-benar dikuasai dengan baik. Artinya anda mengetahui dengan pasti apa yang ingin anda tuliskan, anda mengetahui seluk-beluk persoalan yang ingin dijelaskan. Jika tidak, pikiran akan menjadi buntu, mandek, dan kehilangan ide. Jika hal ini terjadi dan anda bersikeras untuk menyelesaikan tulisan anda dengan pengetahuan anda yang pas-passan tersebut. Yang akan terjadi hanyalah tulisan tersebut terkesan dipaksakan dan kurang berbobot.

Alangkah lebih baik jika banyak membaca buku, karena dengan membaca kualitas tulisan akan menjadi lebih baik. Descartes pernah berkata ‘Membaca buku bermutu itu ibarat berdialog dengan orang-orang hebat atau pemikir-pemikir besar’ tidak hanya itu, buku juga dapat mempertemukan dan menghubungkan dunia masa lalu dengan dunia pembaca saat ini. Bayangkan betapa hebat pengaruh buku ! Sehingga Voltaire pernah menegaskan buku mampu membakar semangat suatu bangsa dan mengubah dunia.

‘Ujung penaku mampu mengubah dunia'(Alvin Toffler).

Orang yang menulis berarti memiliki kesadaran sejarah ! Mengapa, karena dengan menulis anda tidak akan dilupakan oleh sejarah. Orang yang menulis tidak ingin dilupakan oleh sejarah, orang yang menulis ingin diingat dan dikenang oleh sejarah. Lihatlah penulis-penulis hebat dunia kita ambil contoh Khalil Gibran si penulis gila dalam sepi yang mendapat julukan ‘Nabi dari Beshari’, walaupun ia telah tiada tetapi hasil karya dan pemikirannya tetap ada begitu pun dengan penulis-penulis lainnya. Penulis itu tidak pernah mati, yang mati hanyalah jasadnya tetapi hasil karya dan pemikirannya masih tetap hidup.

Keep Writing ! :D

About these ads

One comment

  1. salam kenal,
    setuju, ilmu yang pernah diketahui dan dipelajari perlu ditulis karena otak manusia gak mungkin mengingat semuanya, kemungkinannya bisa overloud alias lupa, kan sayang.

    Tulisan yang menggugah hati untuk terus menulis.

    ainy
    kunjungi:www.nursarifahainy.co.cc


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s